Nur Mahmudi Ismail
Peneliti di BPPT dan ayah 3 anak
Kini kegiatan saya sehari-hari seperti biasa, pegawai negeri. Kini saya di BPPT aktif mengadakan penelitian untuk argo industri. Sebagai pegawai biasa, aktivitas saya sebagai suami lebih banyak di luar rumah. Istri saya juga mengajar di Institut Ilmu Al Qur’an di Ciputat. Selain mengajar, istri juga aktif mengisi pengajian di majelis-majelis taklim. Bahkan pengajian di Departemen Kehutanan, walaupun kini kami tidak lagi di sana. Pokoknya, aktivitasnya cukup padat. Tapi komitmen kami, jangan sampai kita kehilangan waktu untuk anak-anak.
Biasanya pagi-pagi kami luangkan waktu berinteraksi dengan anak-anak. Minimal saya ikut mengevaluasi PR mereka, bagaimana persiapan ujian mereka, dari sanalah terlihat seberapa banyak saya telah mengajarkan anak. Seberapa banyak istri telah mengajar.
Saat liburan, kita mencari program apa yang baik untuk mereka. Salah satunya yang saya tekankan adalah silaturahmi dengan sanak saudara kami yang ada di daerah. Saya berupaya menumbuhkembangkan empati terhadap sesama dan juga menguatkan komunikasi. Kadang-kadang, belajar teori terus-terusan di sekolah menghilangkan sensitivitas berkomunikasi dengan sesama.
Saya mendidik anak dengan cara dialogis. Misalnya, ketika melarang anak untuk menonton film atau menonton TV terlalu sering, anak-anak saya ajak berpikir bareng-bareng, apa program yang baik dan yang tidak. Caranya saya ajak anak untuk duduk bareng, bersama-sama menganalisa acara tersebut dan kita diskusikan bersama. Anak akhirnya mengerti sendiri bahwa acara yang ditontonnya itu bermanfaat atau tidak. Di samping itu kami juga memberi penghargaan terhadap prestasi yang dicapai anak-anak. Contohnya, jika puasa sebulan penuh, anak-anak berhak atas hadiah.
Sebenarnya, saya cenderung tidak memaksakan kehendak saya pada anak. Saya juga mengajak istri saya untuk berbuat hal yang sama. Kita mencoba memberi gambaran sebanyak-banyaknya. Kemudian kita tawarkan pada anak. Contohnya ketika anak saya tawarkan sekolah ke Tunas Cendekia (Serpong), saya sampaikan sekolahnya bagus, programnya juga begitu. Coba dilihat. Kalau dia mau, silahkan. Kalau tidak berminat, ya tidak apa-apa. Ternyata waktu daftar dia bertemu dengan teman SD-nya. Saya simpulkan ternyata anak bisa sentimentil dengan memikirkan siapa temannya di sekolah baru nanti. Jadi, bukan hanya karena anak ingin sekolah di situ.
Soal cita-cita juga demikian.
Istri saya ingin sekali anak sulung saya jadi dokter, ternyata tanda-tanda ke arah situ, nggak ada. Justru adiknyalah yang mengarah ke sana. Ya, kita nggak perlu kecewa. Yang penting kami sebagai orang tua telah menanamkan budi pekerti yang baik pada anak-anak, baik dengan contoh maupun dialog.
Komentar Terakhir